Indahnya Berprasangka Baik

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam. Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya. Jaraknya sekitar 10km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian Continue reading

Advertisements

Kisah Teladan : Thalhah ibn ‘Abdurrahman ibn ‘Auf

Ada saja hal yang mengagumkan dari mutiara akhlak pendahulu kita yang shaleh dan begitu sulit ditemukan di zaman ini. Pena ini pun malu membulirkan tintanya karena pemiliknya jauh dari kategori akhlak mulia.

Thalhah ibn ‘Abdurrahman ibn ‘Auf namanya. Lelaki ini adalah sosok paling dermawan diantara tokoh Quraisy kala itu.
Tetapi, suatu ketika, istrinya mencoba mengutarakan uneg uneg yang sempat terpendam dalam hatinya.

Aku tak pernah melihat sosok-sosok yang lebih tak beradab dibanding saudara-saudaramu

Demikian tutur istrinya. Mendengar ini, beliau balik bertanya:

“Ada apa?”

“Aku perhatikan mereka kerapkali mendatangimu saat engkau berezki banyak saja. Sementara mereka meninggalkan engkau kala engkau tak berpunya.”

Dengarlah jawaban mulia sang Thalhah kepada istrinya: Continue reading

Menerima Kebenaran Meskipun Dari Anak Kecil

عن ابراهيم قال سألتُ الفُضَيل : “مَا التَّوَاضُعُ؟”، قال : أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ
Dari Ibrahim ia berkata, “Aku bertanya kepada Al-Fudhail bin ‘Iyaadh, apakah itu tawadhu?”. Beliau berkata, “Engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun engkau mendengar kebenaran dari seorang anak kecil maka kau terima, meskipun engkau mendengar kebenaran dari manusia yang paling bodoh maka engkau terima” (Hilyatul Auliyaa’ 8/91).

firanda.com

:Memaknai Puasa

Sudah lazim, ketika ramadhan tiba umat islam (yg beriman) berbondong-bondong patuh mendengar panggilan Allah untuk menjalankan perintah shaum ramadhan.

“Hai orang2 yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.Sebagaimana diwajibkan (pula) kepada orang2 sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (2:183)

Secara lahiriah puasa pada dasarnya hanya memindah waktu makan dari waktu sarapan, makan siang, makan malam.Menjadi hanya 2 kali saja, yaitu sebelum fajar (sahur) dan setelah terbenam matahari (buka puasa).

Namun jika dimaknai secara luas, shaum ramadhan adalah menahan diri dari segala jenis ‘sahwat’ keduniawian.

Menahan haus dan lapar, menahan amarah dan keinginan-keinginan lain yang lazim bisa dilakukan di luar bulan ramadhan.

Tanpa terasa, kini kita sedang melewati 10 hari terakhir ramadhan, saat-saat yang begitu syahdu…..sebagaimana yang dicontohkan Rosulullah SAW, i’tikaf di 10 hari terakhir ramadhan.Semakin merapat, mendekatkan diri kedalam dekapan Allah SWT.

Orang-orang soleh begitu khusyuk dan lezatnya beribadah, sampai-sampai mereka menangis mendapati kenyataan harus berpisah dengan ramadhan yang penuh dengan kemuliaan.

Marilah sama-sama kita do’akan, semoga rangkaian ibadah kita di bulan ramadhan ini mendapat ridho dari Allah SWT.

Powered by ScribeFire.