Yang Mereka Butuhkan Justru Yang Sering Kita Remehkan


bahagia-itu-sederhana

 

 

 

 

 

 

Oleh : Hasan Al-Jaizy

[Yang Mereka Butuhkan Justru Yang Sering Kita Remehkan ]

[1]

Dahulu, kami dinasihati oleh Ust. Ahmad Sarwat -hafidzahullah-. Nasihat ini sederhana. “Ya ikhwah, sebenarnya yang dibutuhkan keumuman orang sekarang justru perkara-perkara kecil. Mereka butuh tahu bagaimana berwudhu dengan baik, shalat dengan baik dan fadhaail al-a’maal.” Terlepas dari kenyataan saya/Anda sejalan atau tidak dengan beliau dalam beberapa perkara, namun nasihat beliau patut direnungkan. Dan moga-moga nasihat beliau ini menjadi reminder bagi kita yang sering membahas perkara-perkara besar namun kecil manfaatnya untuk keumuman manusia.

Karena, bahkan banyak perkara kecil yang seharusnya kita tawarkan bagi manusia. Banyak sekali yang perlu dididik -selain diri kita sendiri terutama-. Terutama berkaitan wudhu, shalat dan puasa. Maka alangkah mulianya jika seseorang yang meskipun ilmunya tak seberapa, namun ia rela  sisihkan waktu dan tenaganya untuk mewartakan manusia bagaimana berwudhu dengan baik, sesuai dengan sunnah Rasul. Tidak sedikit saudara atau kawan atau tetangga atau siapalah itu, yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan mengenyahkan terbata-bata.

Seringkali kita remehkan semua itu. Sebagaimana kebanyakan manusia sekarang menganggap bahwa mengajar mahasiswa (sebagai dosen) atau memiliki kajian beratus hadirin adalah yang terhebat, mereka menganggap bahwa guru ngaji, guru TPA dan guru Ibtida’iyyah tak layak dianggap. Padahal, jasa-jasa mereka besar sekali.

Cobalah sesekali kita menengok ke TPA terdekat. Entah yang mengajar adalah ibu- ibu berkerudung atau mas-mas. Mereka mengajarkan anak-anak Al-Qur’an. Mungkin…mungkin kita merasa bacaan  kita lebih bagus dari guru-guru tersebut. Namun, ternyata kita hanya penonton. Justru mereka lah yang bergerak dan merelakan diri. Dan bayangkan, jika mereka berhasil membuat 10 anak kecil mampu membaca dan menghafal Al- Fatihah dengan baik, maka berlipat-lipatlah pahala bagi para guru. Jika 10 anak kecil tersebut, berkat pengajaran guru, membaca 2.000.000 kali Al-Fatihah dijamak seumur hidup, jangan letih-letih menghitung pahala para guru, tetapi mengacalah…jangan remehkan itu.

Apakah hajat umat rutin kita tunaikan?

[2]

Ibu dan bapakmu, mungkin tak pernah memimpikan dirimu akan membelikan mobil mewah untuk mereka. Padahal, jikalau dihitung-hitung, segala jasa, perih, air mata dan daya yang mereka kerahkan untukmu, bisa lebih bernilai dari dunia dan seisinya. Segala materi dunia tak tergantikan. Tak mampu membayar. Berapa miliar sudah mereka infakkan demi kamu. Saat kelahiranmu dahulu. Masa susuanmu dahulu.

Ingatlah kala kamu sakit keras. Ingatlah biaya sekolahmu. Ingatlah biaya mainanmu kala kanak-kanak. Ingat ketika dahulu kamu diajak bapak dan ibu ke taman-taman dan gedung-gedung. Ingat rengekmu kala itu. !!!

Saya teringat, kala masih kecil, emak mengajak belanja di Pasar Jatinegara. Setelah letih mengitari dan membeli sana- sini, emak mentraktir minum es yang kala itu bagi saya begitu mahal. Itu di tengah pasar. Ketika kami minum, emak berpesan, ‘Nanti pas di rumah, jangan kasih tahu (adik dan kakak) ya!’ Dan saya mengangguk juga berjanji. Sederhana. Belum lama, di tengah keramaian pasar, saya mentraktir emak es dan kami minum bersama. Teringatlah saya momen masa kecil itu. Lalu saya berkata, ‘Dulu saya yang ditraktir. Sekarang gantian, saya yang nraktir.’ Ibu dan bapakmu tak memintamu segudang emas. Jikalau kamu sedia waktu untuk kirim SMS atau telepon tanya kabar saja, bisa jadi itu lebih berharga bagi mereka dari segudang emas beserta segala perhiasan dunia.

Ibu dan bapakmu sederhana sekali menginginkan darimu, namun doa-doa mereka tentangmu, takkan pernah sederhana. Sebagaimana ada hal-hal sederhana yang bisa membuat keduanya ridha, ada pula hal-hal sederhana yang bisa membuat keduanya sakit hati. Maka, semakin tua orang tua, semakin berhati-hatilah berlisan pada mereka. Semakin tua, memang seolah semakin kembali kekanak-kanakan. Namun, justru keanehan itulah yang seharusnya membuat kita berfikir, ‘Jika dahulu kekanak-kanakanmu seringkali menyusahkan mereka, maka janganlah aku merasa disusahkan oleh kekanak-kanakan mereka.’ Sederhana. Sederhana sekali. Namun,seringkali kita abaikan kesederhanaan demi kemegahan yang jarang diridhai.

sumber : http://facebook.com/story.php?story_fbid=542230095818380&id=100000941826369&from_feed=1&refid=7&_ft_=qid.5880085810534561966%3Amf_story_key.-412989230631682345

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s