Mengapa Muslim Tidak Boleh Mengucapkan Selamat Natal?


uskup251208

“Mengapa orang Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal? Bukankah saat Idul Fitri orang Kristen mengucapkan Selamat Lebaran?”

“Kalau tidak mengucapkan nanti dianggap tidak menghormati. Kan kita harus saling toleransi untuk menjaga kerukunan umat beragama.”

Tidak hanya orang Kristen dan umat beragama non Islam yang sering mengucapkan kalimat-kalimat ini, ternyata masih banyak orang Islam yang masih mempertanyakan dan meragukan mengapa umat Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal kepada orang Kristen. Rupanya masih banyak yang belum paham makna dari kata toleransi beragama.

Toleransi beragama dilaksanakan bukan dengan mengucapkan selamat kepada yang merayakan Natal atau ikut menghadiri undangan perayaan Natal. Akan tetapi, bentuk toleransi kita adalah dengan membiarkan orang Kristen melaksanakan dan merayakan hari raya mereka tanpa kita ganggu. Titik.

Lho, tapi kan tidak sopan kalau tidak mengucapkan. Kan katanya segala sesuatu berawal dari niat. Berarti kalau kita tidak berniat mengakui  natal tapi hanya berniat mengucapkan untuk menjaga hubungan kan nggak apa-apa?”

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku” (Q.S Al Kafiruun: 6)

Ayat ini menunjukkan ketegasan Islam dalam hal akidah. Toleransi bukan berarti kita terjebak dalam kekufuran, bukan berarti kita harus menggadaikan akidah demi ketakutan yang semu terhadap manusia. Bukankah seharusnya kita lebih takut apabila Allah SWT tidak ridho kepada kita?

“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S Al Maaidah: 44)

Walaupun niat kita ‘hanya’ untuk menjaga hubungan, tapi hukumnya sama saja dengan kita mengakui bahwa natal adalah hari kelahiran Yesus yang dianggap sebagai Tuhan oleh umat Kristen. Padahal dalam Islam sudah jelas sekali bahwa Yesus (Nabi Isa) adalah seorang Nabi, bukan seorang Tuhan, apalagi anak Tuhan.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.“   (Q.S Al Maaidah: 72)

Natal sendiri sebenarnya hanyalah merupakan hasil kesepakatan gereja-gereja akibat pengaruh tradisi Roma. Hari yang diyakini oleh umat Kristen sebagai hari ‘kelahiran’ Tuhan mereka ternyata tidak lebih dari hasil campur tangan manusia yang menetapkan bahwa 25 Desember adalah hari kelahiran Tuhan mereka. Bahkan para teolog mereka pun masih banyak yang berselisih mengenai kapan sebenarnya kelahiran Yesus.

25 Desember diyakini sebagai kelahiran Dewa Mithra oleh orang Yunani dan orang Latin pun merayakan kelahiran Sol Invictus (Dewa Matahari ) pada hari yang sama. Sejak abad ke-4 Masehi gereja Katolik akhirnya menggunakan tanggal ini untuk merayakan 25 Desember sebagai kelahiran Yesus dan menggeser kenyataan bahwa sebenarnya hari itu adalah perayaan kelahiran dewa. Akibatnya, simbol Dewa Matahari masih dipakai dalam perayaan natal yaitu dengan mengganti simbol bahwa Yesus adalah Sang Matahari Kebenaran Penerang Dunia.

Jadi, perayaan Natal sebagai kelahiran Yesus sebenarnya salah kaprah. Nah, bagaimana kita sebagai umat Islam menyikapi hal ini? Karena sudah nyata kesalahan perayaan natal baik dari segi sejarah dan akidah maka seharusnya kita sebagai orang Islam yang taat, tidak ikut-ikutan dalam perayaan Natal ataupun sekedar mengucapkan selamat kepada umat yang merayakan Natal.  Sebenarnya masih banyak orang Kristen yang berpikiran terbuka dan mau mengerti mengapa kita sebagai umat Islam tidak boleh mengucapkan dan ikut dalam perayaan Natal. Jadi sebenarnya ketakutan umat Islam akan pecahnya kerukunan apabila tidak saling mengucapkan selamat hari raya itu kurang beralasan. Cukuplah kita membiarkan umat Kristen merayakan hari raya mereka ataupun melaksanakan ibadah mereka yang lain dengan tenang tanpa kita ganggu. Itulah bentuk toleransi Islam yang sebenarnya.

”Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula”. Sebagian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: ”Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam bi shawab

Sumber :

voa-islam.com : Natalan Bukan Milik Yesus, tapi Hari Ulang Tahun Kelahiran Dewa Kafir

voa-islam.com : Hukum Mengucapkan dan Menjawab Selamat Natal

muslim.or.id: Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal?

felixsiauw.com: Toleransi Islam untuk 25 Desember

One thought on “Mengapa Muslim Tidak Boleh Mengucapkan Selamat Natal?

  1. Indonesia adalah negara dengan kebhinekaan yg memiliki beragam suku, adat istiadat, budaya & kepercayaan. Jika Islam diajarkan utk tidak boleh mengucapkan selamat hari raya kepada umat yg memiliki perbedaan keyakinan dengannya, maka tindakan utk tidak mengucapkan tersebut adalah benar. Ketika NU dan Muhamadiyah berbeda dalam menentukan 1 syawal, Islam juga menyikapi baik perbedaan ini. Namun letak permasalahannya bukan pada kata melarang ucapan Selamat tersebut melainkan metode penyampaian Fatwa Larangan tersebut yg mengandung unsur tidak toleran terhadap pemeluk kepercayaan lain.
    Toleransi antar umat beragama yg baik adalah dg tidak menyampaikan sebuah Fatwa melalui Media terbuka melainkan dengan jalan Internal agamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s