Ramadhan…Nyantri di Pabrik


Ramadhan Nyantri di Pabrik

Oleh Prasetyo H Usodo

Pribadi berdzikir

Dzikir menjadi kepribadiannya

Allah tujuannya, Rosulullah SAW teladan dalam hidupnya

Dunia ini pun, menjadi surga sebelum surga sebenarnya

Bumi menjadi masjid baginya

Rumah, kantor bahkan hotel sekalipun menjadi musholla baginya

Tempat ia berpijak,meja kerja, kamar tidur, hamparan sajadah baginya

….

-Arifin Ilham-

Rasanya sudah menjadi sebuah teori yang terpatri di otak kita bahwa sebagai seorang karyawan, tak kurang dari sepertiga waktu kita dalam sehari kita habiskan di lingkungan kerja kita. Bahkan terkadang dalam prakteknya waktu yang sepertiga itu harus lebih, karena belum tuntasnya pekerjaan dan lain hal. Kondisi ini menuntut kita, untuk kreatif dalam mengatur waktu dan cerdas menata amal, karena waktu yang kita miliki sejatinya tak hanya untuk kita habiskan untuk bekerja. Ada hak keluarga di sebahagian waktu kita, ada hak Sang Pencipta yang mutlak kita penuhi. Terlebih ketika datang, bulan yang waktu-waktunya begitu sayang untuk kita habiskan dengan aktifitas yang ternilai sesaat, bulan Ramadhan, bulan yang Rosulullah dan para sahabat menyiapkan memasuki bulan mulia itu dua bulan sebelum datangnya. Maka kreatifitas kita dalam mengatur waktu dan kecerdasan kita dalam menata amal menjadi satu mata kuliah di bulan Ramadhan. Maka ijinkan saya menyebut, masuknya kita dalam bulan Ramadhan seperti belajarnya seorang santri dalam sebuah pesantren, yang pesantren tersebut kita sebut sebagai pabrik lantaran para santrinya adalah para karyawan.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS. 51:56)

Ayat ini menjadi satu pokok bahasan dalam nyantri di pabrik. Karena dengan landasan ayat inilah, para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik menyandarkan niatnya. Berangkat bersamaan dengan bergegasnya mentari, dengan niat beribadah dan menyembah kepada sang Ilahi. Maka pekerjaan yang rasanya nilainya sesaat, menjadi sebuah bekal di kehidupan yang abadi. Dengan niat ibadah, tunai amanah tanpa keluh kesah, selesai tugas dengan teriring rasa ikhlas.

Pesantren Ramadhan tentunya tak hanya mengajarkan bagaimana niat yang mulia menjadi landasan dalam melangkah. Tetapi juga mengajarkan bagaimana amal terbangun dari niat yang mulia tersebut. Bagaimana merealisasikan pekerjaan setelah niat ibadah tertanam sebelum melangkah. Homo homini socius, begitu sering kita dengar. Manusia adalah makhluk sosial yang tak bisa dipisahkan dengan manusia yang lain dalam apapun itu, termasuk bekerja. Maka, para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik, menjadikan hadits ke-28 bulughul maram min adilatil ahkam, kitab adab dan kesopanan sebagai satu panduan. Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat”. Terbangun sebuah team work yang sangat kokoh, bertolong bantu, berkasih mesra dan meyakini bahwa ketika kita mampu menyelesaikan kerjaan bagian kita dengan baik, benar dan tepat waktu, maka sejatinya kita meringankan beban saudara kita yang harus menunaikan bagian lain dari pekerjaan tersebut.

Bahwa waktu para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik, sudah tersebut di atas, tak hanya habis untuk pekerjaan, tetapi juga ada hak Sang Pencipta dan hak keluarga dan lain-lain. Maka, terlarutnya waktu dan kesibukan untuk menyelesaikan pekerjaan, tak jua melarutkan niat untuk memenuhi hak Sang Pencipta dan hak yang lain. Ketika waktu sholat tlah tiba, ketika adzan tlah dikumandangkan, maka melangkah kaki para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik tanpa tergesa untuk memenuhi panggilanNya mengejar keutamaan shalat di awal waktu. Para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik tak pelit dalam beramal, maka waktu istirahat tak hanya terisi dengan tunainya kewajiban sholat, tetapi, para santri melebihkannya dengan mengerjakan yang sunah, membuka AlQuran dan bertilawah.

Kalau waktu para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik juga menjadi hak keluarga, maka bagaimana ini bisa terlaksana, sementara para santri harus beraktifitas jauh dari keluarga, sementara hak tersebut tak hanya sebatas materi yang ternilai sesaat. Maka, Rosulullah dan para sahabatnya memberikan sebuah teladan sejati. Rasulullah Saw bersabda : “Ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku.” Para sahabat lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah khalifah-khalifahmu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang datang sesudahku mengulang-ulang pelajaran hadits-hadits dan sunahku dan mengajarkannya kepada orang-orang sesudahku.” (HR. Ar-Ridha). Sebuah hadits dalam 1100 Hadits Terpilih, karangan Rd. Muhammad Faiz Almath ini seolah mengajak para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik untuk tak berat melangkahkan kaki menuju majelis ilmu. Maka sewajarnya, kajian-kajian di masjid tak tersisa ruang, penuh sesak oleh para santri Pesantren Ramadhan di Pabrik yang mengejar rahmatNya dengan mengkaji hadits dan sunnah. Para santri pun melengkapi pemenuhan hak untuk keluarga, menggenapkan ikhtiar menggapai rahmatNya dengan mengajarkan apa yang didapatnya dari majelis ilmu untuk keluarga, para tetangga dan tak lupa lingkungan kerja.

Begitulah, dalam Pesantren Ramadhan di Pabrik, kita belajar meniatkan bekerja untuk ibadah, bekerja bersama untuk saling meringankan, adil dalam memenuhi hak yang lain dan mengiringi proses belajar dengan mengajar dan beramal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s