Saat Tahajudista Vs Milanisti Bertemu


Empat orang berkumpul dalam satu meja di sebuah rumah makan di suatu siang. Semuanya laki-laki. Maka layaknya laki-laki, pembicaraan tak jauh-jauh dari soal dunia sepakbola. Tentang kompetisi yang sedang bergulir, bursa transfer, pemain favorit, strategi, dan lainnya.

“Akhir pekan ini Liverpool lawan siapa Ded?” Tanya salah seorang dari mereka, bernama Aman.

“Aston Villa. Maennya jam 11 malem hari sabtu. Kalo jam 9 nya MU. Coba Liverpool yang jam 9. Jam 11 malem itu tanggung mau tidur dulu. Jadi harus begadang.” Jawab Dedi, yang ditanyai oleh Aman.

“Terus lu ga nonton?” Andri menimpali.

“Enak aja.. Nonton dong. Gw kan Liverpuldian sejati. Lah lu, Madrid kan maen jam 3 pagi. Lu mau nonton?” Dedi balik bertanya kepada Andri.

“Harus dan kudu. Percuma jadi Madridista kalo nyerah sama jam 3 pagi.” Jawab Andri.

“Wah.. Jam 3 ya? Jam 2 nya Milan tuh..” Kata Aman.

“Nonton mana lu?” Tanya Dedi.

“Milan dong. Gw kan Milanisti, bukan Madridista.”

Kemudian tiga orang itu serempak melihat pada Urwah yang sejak tadi diam.

“Urwah, lu gak ada tim kesayangan?” Tanya Andri.

“Waa.. Gw pengennya jadi Tahajudista.” Jawab Urwah.

“Nama fans klub apaan tuh?” Tanya yang lain serempak.

“Itu bukan klub. Tapi julukan bagi orang yang doyan bangun malam-malam buat Tahajud. Kalo kalian kan bangun malam-malam untuk nonton bola.” Terang Urwah.

“Yaa… Tahajud mah bisa diseling, kalii… Kalo lagi istirahat kan ada waktu yang cukup buat tahajud.” Kata Andri.

“Lima belas menit yah? Wah… Bagi tahajudista, agak kurang itu bro. Tahajudista kalo lagi bangun malem agendanya banyak. Selain tahajud, juga tilawah baca Qur’an. Satu rokaat saja kadang lama, karena sambil murojaah, mengulang hafalan Qur’an. Selain itu tahajudista juga introspeksi bermuhasabah. Kalau menyadari ada dosa siang tadi, tahajudista akan banyak-banyak beristighfar.

Seorang tahajudista juga punya banyak kebutuhan pada Allah. Makanya doanya sering panjang. Mumpung sepertiga akhir malam, saat yang mustajab untuk berdoa.

Ya mungkin kadang tahajudista juga butuh istirahat saat tengah beraktivitas malam, nah baru saat itu tahajudista nonton bola. Tapi gak lama-lama.”

Yang lain terdiam mendengarkan sambil menikmati makan siangnya. Ada juga yang manggut-manggut.

“Tapi walau pun cuma lima belas menit menunggu babak kedua dimulai, Milanisti, Liverpuldian, Madridista, juga bisa kok jadi tahajudista. Asal lima belas menit itu sungguh-sungguh dipakai bermunajat kepada Allah. Daripada tidak sama sekali?” Lanjut Urwah.

“Betul Urwah. Sambil doain tim kesayangan biar menang.” Jawab Dedi yang disusul tawa oleh yang lain. (Islamedia.web.id)

source from : voa-islam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s