Ilmu, Kunci Syukur Datangnya Ramadhan


Semoga Ramadhan ini menjadikan kita dalam kelompok “khususul khusus”. Yang tak menyisakan ruang sedikit pun kecuali untuk Allah

Oleh: Asmu’i*

Ramadhan, kata yang penuh makna, kata yang sangat indah dan agung bagi orang-orang yang beriman, dan kata selalu menggetarkan dada. Selalu ada gelora rindu tiada terkira, tatkala disebut namanya.

Ramadhan,  mengingatkan kita pada ‘mata’ para muttaqin yang selalu basah mengiringi detik demi detik belaiannya. Ia juga mengingatkan kita pada lisan-lisan yang selalu basah karena senantiasa berzikir, bertasbih, penuh harapan dan permohonan.

Ramadhan, kata yang tiada jenuh diucapkan, kata yang tiada kering didiskusikan, kata yang tak lekang diterjang oleh panas, tak lapuk diguyur oleh hujan, dan kata yang tak sirna diterjang oleh zaman. Ramadhan, kata yang telah menyatukan hati umat ini, merapatkan barisan kaki kita, menguatkan ukhuwah saudara-saudara kita, menyongsong rahmat-Nya, menggapai ampunan-Nya, agar selamat dari ‘azab-Nya, Amien ya Rabbal’alamin.

Kini, bulan Ramadhan telah begitu dekat dengan kita, wibawanya begitu terasa, begitu menyentuh, sehingga mampu merajut pundi-pundi kekuatan dalam diri ini, untuk bangkit menyambutnya. Ia adalah bulan yang begitu kita tunggu-tunggu, bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Ia akan segera hadir dalam hari-hari kita ke depan, menyapa kita dan bersama kita.

Sungguh, bisa bertemu dengan bulan ini saja, rasanya satu nikmat yang tiada terkira dari Allah swt. Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrashshiyam.

Masalahnnya,  apa sudah kita persiapkan untuk menyambutnya?  

Sambut dan Syukuri

Jika ada yang bertanya, sudah berapa kali kita berpuasa Ramadhan? Tentu kita bisa menjawabnya dengan mudah. Tapi jika pertanyaan itu diteruskan, apa hasil puasa kita selama ini? Dan puasa pada tahun-tahun ? Pertanyaan ini, biasanya mulut kita serasa tersumbat.

Mengapa? Sebab, dibandingkan dengan hikmah dan fadhilah yang ditawarkan Ramadhan, rasanya terlalu sedikit yang telah kita capai. Revolusi kejiwaan, yang semestinya terjadi setelah kita berpuasa sebulan penuh, hingga puluhan kali Ramadhan itu, ternyata masih belum cukup mampu merevolusi jiwa kita. Yang terjadi justru hanyalah sebuah rutinitas tahunan; siang hari menahan diri dari lapar dan dahaga, selebihnya tidak terjadi apa-apa.

Pertemuan dengan bulan Ramadhan bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu sangat luar biasa. Tidak semua orang punya kesempatan bertemu dengannya. Ia tidak akan bisa dipaksa hadir jika bukan waktunya. Bahkan, kita juga harus tahu, yang sudah punya kesempatan bertemu sekalipun tidak semuanya siap dengan bekal Islam dan Iman dari-Nya.

Karena itu, sungguh, ini nikmat yang begitu besar dari-Nya. Kita termasuk orang-orang pilihan-Nya yang telah ia beri bekal. Mari kita syukuri pertemuan yang akan segara berlangsung itu. Mari kita sambut Ramadhan sebagaimana seharusnya. Mari, kita raih kemenangan dari pertemuan ini.

Syukur memang tidak cukup di lisan saja, tapi harus kita buktikan, dengan kesungguhan dan totalitas. Agar maksimal, mari kita persiapkan segalanya sejak dini.

Mungkin ada yang bertanya, apa yang harus kita persiapkan? Pertanyaan ini tidak hanya wajar untuk disampaikan, tapi juga penting dan sangat mendesak. Sebab, jika kita salah melakukan persiapan, maka Ramadhan kali ini menjadi kurang bermakna bagi hidup kita.

Imam Ghazali dan Ramadhan

Kajian terhadap pemikiran Imam al-Ghazali dalam kitab beliau Ihya’ ‘Ulumiddin (Juz: 1, p: 235-237) tentang klasifikasi orang-orang yang berpuasa kiranya sangat membantu kita menemukan jawabnnya.

Imam al-Ghazali mengelompokkan kaum muslimin yang berpuasa dalam tiga kategori.

Pertama, mereka yang dikelompokkan sebagai Shaumu al-‘Umum, yakni puasanya orang-orang awam. Kelompok ini berpuasa tidak lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hubungan seksual di siang hari Ramadhan.

Yang kedua,
adalah kelompok Shaumu al-Khusus. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini, selain menahan lapar, menahan haus dan tidak berhubungan suami isteri di siang hari, mereka juga menjaga lisan, mata, telinga, hidung, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan maksiat dan sia-sia. Mereka menjaga lisannya dari berkata bohong, kotor, kasar, dan segala perkataan yang bisa menyakiti hati orang. Mereka juga menjaga lisannya dari perbuatan tercela lainnya, seperti ghibah, mengadu domba, dan memfitnah. Mereka hanya berkata yang baik dan benar atau diam saja. Jika kaum muslimin berpuasa seperti puasanya kelompok yang kedua ini, sungguh akan terjadi perubahan diri yang luar biasa, yang pada akhirnya berdampak pada perubahan sosial yang lebih baik lagi.

Yang ketiga, adalah mereka yang berada dalam kategori khususul khusus atau al-Khawwas. Mereka tidak saja menjaga telinga, mata, lisan, tangan, dan kaki dari segala yang menjurus pada maksiat kepada Allah, akan tetapi mereka juga menjaga hatinya dari selain mengingat Allah. Mereka mengisi rongga hatinya hanya untuk mengingat Allah semata-mata. Mereka tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam hatinya untuk urusan duniawi. Mereka benar-benar mengontrol hatinya dari segala detakan niat yang menjurus pada urusan duniawi.

Pertanyaannya sekarang, kita termasuk kelompok yang mana?

Pelajaran mendasar yang bisa kita ambil dari pandangan Imam al-Ghazali tersebut adalah, bahwa yang esensi (pokok) dari puasa atau ibadah-ibadah lainnya bukan pada kuantitas (jumlahnya) saja, tapi yang lebih penting dari itu adalah pada kualitas ibadah kita. Oleh sebab itu, dalam kaitannya dengan semakin dekatnya bulan suci Ramadhan kali ini, mari secara sadar dan serius kita persiapkan diri kita untuk bisa kiranya meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dan juga kualitas ibadah-ibadah kita yang lain.

Kunci Syukur

Jika berbicara kualitas, tentu tidak ada cara lain yang bisa kita tempuh selain dengan ilmu. Sebab dalam Islam, ibadah itu adalah melaksanakan apa-apa yang telah Allah swt tentukan, sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasul saw.

Artinya, beribadah bukanlah perbuatan yang berasal dari rekaan kita. Tapi ia harus disandarkan pada kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Lantas, jika tidak berilmu, lalu, bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan baik? Bagaimana mungkin ibadah kita berkualitas? Artinya benar sesuai syara’. Padahal, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin telah menyatakan: “Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba-Nya.”

Tidak ada kata terlambat, di sisa waktu yang ada ini, mari kita isi dengan mempelajari kembali apa yang belum kita ketahui, atau yang kurang kita pahami, baik melalui kajian pada sumbernya secara langsung, yaitu Al-Quran dan Sunnah, maupun melalui pemahaman para Salafus-Shalih, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta para pengikut pola hidupnya hingga hari akhir. Agar kita benar-benar tahu, apa, mengapa, dan bagaimana seharusnya kita melewati bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi menghampiri kita itu.

Pembiasaan Diri

Persiapan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bisa kita jadikan momentum untuk secara sadar, rasa keterpanggilan, tanggung jawab, keseriusan bahkan sebuah kewajiban dalam menuntut ilmu. Mari kita jadikan kebiasaan menuntut ilmu itu sebagai milik kita, umat Islam. Sebab tanpa ilmu, kaki kita akan lebih sering tergelincir daripada benarnya. Oleh karenanya, dalam Islam, tidak ada kata akhir dalam masalah mencari ilmu, tidak juga karena alasan usia, alasan waktu dan tempat.

Imam Ahmad yang hafal begitu banyak hadits, tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, “Sampai kapankah Anda membawa tinta?” Beliau menjawab, “membawa tinta sampai ke kubur.”

Ramadhan juga bisa kita jadikan momentum, untuk kembali melihat dan menanyakan, sudahkah kita mengamalkan ilmu yang kita miliki. Koreksi diri dan pertanyaan seperti itu penting dan mendesak, sebab kita wajib mengamalkan ilmu yang kita miliki. Allah swt berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ (البقرة: (44).
Artinya: “Mengapa kamu menyuruh manusia (mengerjakan)  kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri.” (Surat al-Baqarah: 44).

Ayat ini sebagai peringatan kepada orang yang hanya pandai menyuruh orang lain untuk berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Wahidi dan ats-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abi shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam kaitan ilmu dan amal ini, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: “Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan terjadi pada umat ini adalah adanya seorang munafik yang ‘alim.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana ada munafik tapi alim?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang hanya pintar di lidah, namun bodoh dalam hati dan amalnya.”

Penutup

Kesadaran kita untuk mengamalkan ilmu inilah yang sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ibadah kita, khususnya di bulan Ramadhan nanti. Yang tidak kalah penting lagi, kita juga harus menyadari bahwa, untuk bisa mengamalkan ilmu secara utuh, perlu latihan-latihan dan kesungguhan. Artinya, itu tidak bisa terjadi secara tiba-tiba. Makanya, sangat tepat bagi kita untuk mempersiapkan hal itu mulai dari sekarang. Sehingga, jika nanti kita telah benar-benar berada di bulan Ramadhan, kita sudah terbiasa beribadah dengan benar.

Akhirnya, dengan arah persiapan yang benar, jelas, sungguh-sungguh dan berkelanjutan, mudah-mudahan ramadhan kali ini benar-benar mampu menjadi ajang revolusi jiwa kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sehingga, kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh zaman, kondisi dan lika-liku kehidupan. Semoga, amal ibadah kita di bulan Ramadhan nanti terus mampu kita pertahankan, bahkan bisa secara tetarur, mampu kita tingkatkan. Ramadhan, kami siap menyambutmu. Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrash-shiyam. Wallahu a’lamu bi as-shawab.

Penulis adalah mahasiswa pada Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita dalam kelompok “khususul khusus”. Yang tak menyisakan ruang sedikit pun kecuali untuk Allah

Oleh: Asmu’i*

Ramadhan, kata yang penuh makna, kata yang sangat indah dan agung bagi orang-orang yang beriman, dan kata selalu menggetarkan dada. Selalu ada gelora rindu tiada terkira, tatkala disebut namanya.

Ramadhan,  mengingatkan kita pada ‘mata’ para muttaqin yang selalu basah mengiringi detik demi detik belaiannya. Ia juga mengingatkan kita pada lisan-lisan yang selalu basah karena senantiasa berzikir, bertasbih, penuh harapan dan permohonan.

Ramadhan, kata yang tiada jenuh diucapkan, kata yang tiada kering didiskusikan, kata yang tak lekang diterjang oleh panas, tak lapuk diguyur oleh hujan, dan kata yang tak sirna diterjang oleh zaman. Ramadhan, kata yang telah menyatukan hati umat ini, merapatkan barisan kaki kita, menguatkan ukhuwah saudara-saudara kita, menyongsong rahmat-Nya, menggapai ampunan-Nya, agar selamat dari ‘azab-Nya, Amien ya Rabbal’alamin.

Kini, bulan Ramadhan telah begitu dekat dengan kita, wibawanya begitu terasa, begitu menyentuh, sehingga mampu merajut pundi-pundi kekuatan dalam diri ini, untuk bangkit menyambutnya. Ia adalah bulan yang begitu kita tunggu-tunggu, bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Ia akan segera hadir dalam hari-hari kita ke depan, menyapa kita dan bersama kita.

Sungguh, bisa bertemu dengan bulan ini saja, rasanya satu nikmat yang tiada terkira dari Allah swt. Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrashshiyam.

Masalahnnya,  apa sudah kita persiapkan untuk menyambutnya?  

Sambut dan Syukuri

Jika ada yang bertanya, sudah berapa kali kita berpuasa Ramadhan? Tentu kita bisa menjawabnya dengan mudah. Tapi jika pertanyaan itu diteruskan, apa hasil puasa kita selama ini? Dan puasa pada tahun-tahun ? Pertanyaan ini, biasanya mulut kita serasa tersumbat.

Mengapa? Sebab, dibandingkan dengan hikmah dan fadhilah yang ditawarkan Ramadhan, rasanya terlalu sedikit yang telah kita capai. Revolusi kejiwaan, yang semestinya terjadi setelah kita berpuasa sebulan penuh, hingga puluhan kali Ramadhan itu, ternyata masih belum cukup mampu merevolusi jiwa kita. Yang terjadi justru hanyalah sebuah rutinitas tahunan; siang hari menahan diri dari lapar dan dahaga, selebihnya tidak terjadi apa-apa.

Pertemuan dengan bulan Ramadhan bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu sangat luar biasa. Tidak semua orang punya kesempatan bertemu dengannya. Ia tidak akan bisa dipaksa hadir jika bukan waktunya. Bahkan, kita juga harus tahu, yang sudah punya kesempatan bertemu sekalipun tidak semuanya siap dengan bekal Islam dan Iman dari-Nya.

Karena itu, sungguh, ini nikmat yang begitu besar dari-Nya. Kita termasuk orang-orang pilihan-Nya yang telah ia beri bekal. Mari kita syukuri pertemuan yang akan segara berlangsung itu. Mari kita sambut Ramadhan sebagaimana seharusnya. Mari, kita raih kemenangan dari pertemuan ini.

Syukur memang tidak cukup di lisan saja, tapi harus kita buktikan, dengan kesungguhan dan totalitas. Agar maksimal, mari kita persiapkan segalanya sejak dini.

Mungkin ada yang bertanya, apa yang harus kita persiapkan? Pertanyaan ini tidak hanya wajar untuk disampaikan, tapi juga penting dan sangat mendesak. Sebab, jika kita salah melakukan persiapan, maka Ramadhan kali ini menjadi kurang bermakna bagi hidup kita.

Imam Ghazali dan Ramadhan

Kajian terhadap pemikiran Imam al-Ghazali dalam kitab beliau Ihya’ ‘Ulumiddin (Juz: 1, p: 235-237) tentang klasifikasi orang-orang yang berpuasa kiranya sangat membantu kita menemukan jawabnnya.

Imam al-Ghazali mengelompokkan kaum muslimin yang berpuasa dalam tiga kategori.

Pertama, mereka yang dikelompokkan sebagai Shaumu al-‘Umum, yakni puasanya orang-orang awam. Kelompok ini berpuasa tidak lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hubungan seksual di siang hari Ramadhan.

Yang kedua,
adalah kelompok Shaumu al-Khusus. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini, selain menahan lapar, menahan haus dan tidak berhubungan suami isteri di siang hari, mereka juga menjaga lisan, mata, telinga, hidung, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan maksiat dan sia-sia. Mereka menjaga lisannya dari berkata bohong, kotor, kasar, dan segala perkataan yang bisa menyakiti hati orang. Mereka juga menjaga lisannya dari perbuatan tercela lainnya, seperti ghibah, mengadu domba, dan memfitnah. Mereka hanya berkata yang baik dan benar atau diam saja. Jika kaum muslimin berpuasa seperti puasanya kelompok yang kedua ini, sungguh akan terjadi perubahan diri yang luar biasa, yang pada akhirnya berdampak pada perubahan sosial yang lebih baik lagi.

Yang ketiga, adalah mereka yang berada dalam kategori khususul khusus atau al-Khawwas. Mereka tidak saja menjaga telinga, mata, lisan, tangan, dan kaki dari segala yang menjurus pada maksiat kepada Allah, akan tetapi mereka juga menjaga hatinya dari selain mengingat Allah. Mereka mengisi rongga hatinya hanya untuk mengingat Allah semata-mata. Mereka tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam hatinya untuk urusan duniawi. Mereka benar-benar mengontrol hatinya dari segala detakan niat yang menjurus pada urusan duniawi.

Pertanyaannya sekarang, kita termasuk kelompok yang mana?

Pelajaran mendasar yang bisa kita ambil dari pandangan Imam al-Ghazali tersebut adalah, bahwa yang esensi (pokok) dari puasa atau ibadah-ibadah lainnya bukan pada kuantitas (jumlahnya) saja, tapi yang lebih penting dari itu adalah pada kualitas ibadah kita. Oleh sebab itu, dalam kaitannya dengan semakin dekatnya bulan suci Ramadhan kali ini, mari secara sadar dan serius kita persiapkan diri kita untuk bisa kiranya meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dan juga kualitas ibadah-ibadah kita yang lain.

Kunci Syukur

Jika berbicara kualitas, tentu tidak ada cara lain yang bisa kita tempuh selain dengan ilmu. Sebab dalam Islam, ibadah itu adalah melaksanakan apa-apa yang telah Allah swt tentukan, sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasul saw.

Artinya, beribadah bukanlah perbuatan yang berasal dari rekaan kita. Tapi ia harus disandarkan pada kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Lantas, jika tidak berilmu, lalu, bagaimana mungkin kita bisa beribadah dengan baik? Bagaimana mungkin ibadah kita berkualitas? Artinya benar sesuai syara’. Padahal, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin telah menyatakan: “Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan hamba sehingga dia tahu bagaimana beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan para hamba-Nya.”

Tidak ada kata terlambat, di sisa waktu yang ada ini, mari kita isi dengan mempelajari kembali apa yang belum kita ketahui, atau yang kurang kita pahami, baik melalui kajian pada sumbernya secara langsung, yaitu Al-Quran dan Sunnah, maupun melalui pemahaman para Salafus-Shalih, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta para pengikut pola hidupnya hingga hari akhir. Agar kita benar-benar tahu, apa, mengapa, dan bagaimana seharusnya kita melewati bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi menghampiri kita itu.

Pembiasaan Diri

Persiapan diri menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bisa kita jadikan momentum untuk secara sadar, rasa keterpanggilan, tanggung jawab, keseriusan bahkan sebuah kewajiban dalam menuntut ilmu. Mari kita jadikan kebiasaan menuntut ilmu itu sebagai milik kita, umat Islam. Sebab tanpa ilmu, kaki kita akan lebih sering tergelincir daripada benarnya. Oleh karenanya, dalam Islam, tidak ada kata akhir dalam masalah mencari ilmu, tidak juga karena alasan usia, alasan waktu dan tempat.

Imam Ahmad yang hafal begitu banyak hadits, tidak pernah lepas dari pena dan tinta. Saat beliau ditanya oleh seseorang, “Sampai kapankah Anda membawa tinta?” Beliau menjawab, “membawa tinta sampai ke kubur.”

Ramadhan juga bisa kita jadikan momentum, untuk kembali melihat dan menanyakan, sudahkah kita mengamalkan ilmu yang kita miliki. Koreksi diri dan pertanyaan seperti itu penting dan mendesak, sebab kita wajib mengamalkan ilmu yang kita miliki. Allah swt berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ (البقرة: (44).

Artinya: “Mengapa kamu menyuruh manusia (mengerjakan)  kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri.” (Surat al-Baqarah: 44).

Ayat ini sebagai peringatan kepada orang yang hanya pandai menyuruh orang lain untuk berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Wahidi dan ats-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abi shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam kaitan ilmu dan amal ini, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: “Sesungguhnya di antara yang saya khawatirkan terjadi pada umat ini adalah adanya seorang munafik yang ‘alim.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana ada munafik tapi alim?” Beliau menjawab, “Yakni orang yang hanya pintar di lidah, namun bodoh dalam hati dan amalnya.”

Penutup

Kesadaran kita untuk mengamalkan ilmu inilah yang sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ibadah kita, khususnya di bulan Ramadhan nanti. Yang tidak kalah penting lagi, kita juga harus menyadari bahwa, untuk bisa mengamalkan ilmu secara utuh, perlu latihan-latihan dan kesungguhan. Artinya, itu tidak bisa terjadi secara tiba-tiba. Makanya, sangat tepat bagi kita untuk mempersiapkan hal itu mulai dari sekarang. Sehingga, jika nanti kita telah benar-benar berada di bulan Ramadhan, kita sudah terbiasa beribadah dengan benar.

Akhirnya, dengan arah persiapan yang benar, jelas, sungguh-sungguh dan berkelanjutan, mudah-mudahan ramadhan kali ini benar-benar mampu menjadi ajang revolusi jiwa kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sehingga, kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh zaman, kondisi dan lika-liku kehidupan. Semoga, amal ibadah kita di bulan Ramadhan nanti terus mampu kita pertahankan, bahkan bisa secara tetarur, mampu kita tingkatkan. Ramadhan, kami siap menyambutmu. Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrash-shiyam. Wallahu a’lamu bi as-shawab.

Penulis adalah mahasiswa pada Program Pasca Sarjana di Universitas Darussalam Gontor Ponorogo, Fakultas Ushuluddin

sumber : hidayatullah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s