Perjalanan Menuju Kesempurnaan – Refleksi Isra’ Mi’raj


 

[Refleksi Isra’ Mi’raj ]

Bila perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi “puncak” perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani. Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam.

Dengan mata berkaca-kaca ia berguman, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi orang lemah, dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka itu semua tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun melainkan atas perkenan-Mu”.

Siapakah lelaki itu? Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Fragmen ini terjadi tatkala Beliau bersembunyi di sebuah kebun anggur milik Uthbah bin Rabi’ah untuk menghindari kejaran orang-orang Bani Tsaqif. Mereka mengejar-ngejar dan melempari Rasul setelah beliau mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah.

Peristiwa ini terjadi pada tahun-tahun terakhir dakwah Rasulullah SAW di Mekah. Beberapa buku Shirah Nabawiyah mengungkapkan bahwa masa itu adalah masa paling sulit dan menyedihkan dalam kehidupan beliau. Betapa tidak, orang-orang kafir Quraisy semakin menampakkan permusuhannya pada Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka pun telah menghalalkan segala macam cara untuk menghentikan dakwah beliau. Sebelum peristiwa Tha’if, ada beberapa rangkaian peristiwa menyedihkan yang dialami Rasulullah SAW.

Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Pemboikotan ini, yang hampir membuat kaum Muslimin mati kelaparan, berlangsung selama tiga tahun.

Setelah nestapa itu berlalu terjadi peristiwa kedua, yaitu meninggalnya dua “pelindung” Rasulullah SAW dari kalangan manusia. Mereka adalah Abu Thalib; paman yang selalu melindungi dan menjaga beliau dari intimidasi kaum kafir Quraisy, serta Siti Khadijah; seorang wanita mulia tempat Rasul bersandar, serta berbagi suka dan duka. Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah tak pelak menjadi pukulan bagi Rasulullah SAW.

Ketiga , Perlawanan dan penolakan orang-orang kafir semakin keras. Salah satunya adalah peristiwa pengusiran yang dilakukan penduduk Tha’if.

Demikian beratnya beban yang dipikul, Rasul pun harus “curhat” kepada Allah karena merasa tidak mampu membimbing mereka menuju cahaya Islam.

Hiburan dari Allah SWT

Dalam situasi tertekan ini, Allah SWT “menghibur” Rasulullah SAW dengan memperjalankannya ke langit melalui peristiwa Isra Mi’raj. Isra Mi’raj adalah perjalanan spektakuler yang pernah dilakukan manusia. Betapa tidak, Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam hari dan dalam waktu yang amat singkat dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina.

Dari Al-Aqsa, Beliau naik ke langit melalui beberapa tingkat, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (takhta Allah), hingga Beliau menerima wahyu langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan Jibril.

Isra Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dalam QS Al-Isra [17] ayat pertama difirmankan, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Isra Mi’raj tidak sekadar perjalanan “hiburan” bagi Rasul. Isra Mi’raj adalah perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW.

John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, seperti dikutip Azyumardi Azra, mengungkapkan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. “Isra Mi’raj,” tulisnya, “Benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh dunia gaib”.

Bila perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju Al-Khalik.

Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Perjalanan ini, menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf.

Menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting peristiwa Isra Mi’raj terjadi tatkala Rasulullah SAW “berjumpa” dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah“;

Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja“. Allah SWT pun berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”. Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Ungkapan bersejarah ini kemudian diabadikan sebagai bacaan shalat. Sebagai pribadi berakhlak mulia, Rasulullah SAW sangat menjauhi sikap egois. Beliau ingin ucapan salam dan “undangan” Allah tersebut dirasakan segenap umatnya. Beliau kembali ke bumi dengan membawa salam keselamatan dari Allah SWT lewat perintah shalat. Inilah kado spesial dari Allah SWT bagi orang-orang beriman.

Prof Seyyed Hussein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (Mizan, 1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang kita lakukan sehari-hari.

“Shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman,” demikian ungkapan sebuah hadis. Sabar dan shalat Andai kita tarik garis merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran.

Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat.

Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.

Ketiga hal ini terangkum dengan sangat indah dalam Alquran, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 45-46).

Wallahu a’lam bish-shawab. (Ems)

www.republika.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s