DR. Fathy : “‘Bangsa yang Dijajah Pasti Melawan”


Republika – Konflik Israel-Palestina bagaikan mengurai benang kusut yang tak kunjung menemui titik temu penyelesaian. Kekerasan terus terjadi silih berganti dengan berbagai alasan, termasuk yang terakhir penyerangan militer Israel terhadap relawan internasional di perairan internasional. Fathi Abdelkader, deputi direktur Al-Quds Institution, bercerita panjang lebar saat berkunjung ke Republika tentang perjuangan dan sikap rakyat Palestina dalam menghadapi rezim Zionis Israel. Berikut kutipannya.

Pada 1987, muncul gerakan intifadah yang mengubah semua rencana kekuatan yang ada di Timur Tengah. Saat itu, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) tak berada di dalam Palestina, pusatnya masih di Tunisia. Intifadah saat itu didukung Fatah, tahun berikutnya ada ide untuk melakukan perundingan damai dengan Israel bagi kemerdekaan Palestina.

Perundingan damai tujuannya agar orang yang ingin damai bisa masuk ke Palestina. Sehingga, di Palestina ada dua kubu yang percaya dengan damai dan kubu yang percaya dengan Hamas dan perjuangannya.

Blokade Gaza dalam tiga tahun terakhir, tujuannya untuk melemahkan program perlawanan terhadap Israel agar keamanan Israel terjaga terus. Kalau orang Palestina saja mau menandatangani perjanjian damai, mengapa kami tidak. Ini menjadi dilema.

Pengakuan terhadap Israel kalau dilakukan Hamas sudah cukup. Tapi, perjuangan rakyat Palestina akan habis. Prinsip yang dipegang Hamas harus dijaga betul demi perjuangan rakyat Palestina.

Israel melakukan blokade darat, laut, dan udara tiga tahun lebih. Tapi, warga Palestina tidak putus asa karena mereka mencari solusi agar hidup, dengan menggali terowongan karena makanan dan obat-obatan tidak dapat masuk. Kampanye di luar negeri hasilnya ada armada bantuan.

Israel dibangun atas dasar Zionisme yang dipercaya AS dan Inggris. Untuk menarik dukungan Israel sangat besar. Bahkan, Israel ingin mendapatkan dukungan dari orang AS yang agamis, seperti Jimmy Carter, Reagan, George Bush yang memiliki ideologi yang sama dengan Israel.

Apa dukungan riil yang dibutuhkan rakyat Palestina?
Yang terjadi di Gaza adalah krisis kemanusiaan, ekonomi, sosial, kesehatan yang lumpuh. Kalau ada dukungan yang riil adalah dukungan politik Arab agar bangsa Palestina dapat memperoleh ketenangan. Namun, dukungan politik ini tidak diperoleh. Isu Palestina termarginalkan oleh bangsa Arab karena itu perlu kampanye internasional. Dukungan logistik serta masyarakat umum, selain pemerintah, dengan melakukan tekanan kepada pemerintah untuk menunjukkan kepedulian kepada rakyat Palestina, sangat dibutuhkan.

Bagaimana dengan solusi dua negara yang ditawarkan saat perundingan di Amerika?
Kembali ke sejarah sebelum 1948, apakah ada namanya Israel? Ada perumpamaan menarik yang disampaikan Dr Yusuf Qaradhawi. Beliau mencontohkan, ada pencuri yang masuk ke rumah. Lalu, dia menguasai ruang tamu, Anda menguasai ruang yang lain.

Apakah Anda setuju?
Pasti tidak. Hamas setuju negara Palestina pada 1967, tapi dengan kekuasaan penuh, tidak dengan adanya perjanjian dengan Israel. Perbatasan 1967 terbuka bagi semua negara. Memiliki otoritas, kewenangan, tentara, dan tidak didikte. Ide ini tidak diterima Israel.

Mereka membangun permukiman di wilayah pendudukan karena mereka memang tidak mau solusi dua negara. Kalau Israel dibagi menjadi dua negara, mau tidak Israel. Pasti tidak mau. Israel tidak mau menerima solusi 1967.

Bagaimana dengan nasib perundingan sekarang?
Utusan AS, George Mitchell, ketika datang ke Ramallah, kaget dengan bentuk kompromi begitu besar dari Palestina. Kok sampai begitu Palestina mau berkompromi. Tanah diganti dengan tanah. Kompromi ini mendapat legalitas dari rezim Arab sekarang. Menurut sejarah, perundingan damai pada 1993, tidak ada hasilnya. Bagi Palestina tidak ada hasilnya. Hak Palestina hilang, kemerdekaan sulit tewujud.Rakyat Palestina ditekan terus. Tapi otoritas Palestina, pimpinan Mahmud Abbas, akan terus melanjutkan perundingan damai meski ada kejadian besar, seperti di lepas pantai Gaza sekarang.

Sampai kapan perlawanan ini berakhir?
Perjuangan ini akan dilakukan sampai Palestina merdeka. Ada 10 hal yang membuat Israel hancur. Di dalam Israel sendiri ada kubu Yahudi Afrika, Eropa, yang seperti kasta-kasta. Lima pilar tegaknya Israel tidak ada, salah satunya keamanan yang sampai kini tidak ada jaminan.

Bahkan, warga Israel banyak yang hijrah kembali keluar Israel ke negara masing-masing. Kesejahteraan yang dijanjikan tidak ada. Negara Israel akan hancur dan banyak hadis yang menunjukkan perang akhir zaman dan kemenangan akan berpihak pada umat Islam.

Israel hancur ada yang menyebutkan 2015, 2020, dan lainnya, tapi kehancuran itu sudah kepastian, dan bangsa mana pun yang dijajah pasti akan melawan. wulan/hiru, ed: nur hasan

sumber : knrp

One thought on “DR. Fathy : “‘Bangsa yang Dijajah Pasti Melawan”

  1. 100% setuju… Negara Islam tetangga Palestina kapan bergeraknya.. Terutama Iran yang sekarang memiliki pemimpin agak keras.. seharusnya bertindak.. yang pasti Inggris yang akan melawan kita umat Islam, kalau Amerika di bawah pimpinan Obama saya nggak tahu.. kira2 melawan nggak kalau negara Arab bertindak melawan Israel.. Kalau dipimpin Bush udah pasti melawan itu Amerika penjajah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s