Sedikitnya Terasa Banyak


Oleh Drs. Ahmad Yani, Ketua LPPD Khairu Ummah

Ungkapan-ungkapan Nabi, para sahabat dan ulama, seringkali kita rasakan kedalaman maknanya yang amat berguna bagi kita bila kita menghayatinya. Salah seorang sahabat Nabi, bahkan menjadi menantu beliau yang kata-katanya mengandung hikmah yang dalam adalah Ali bin Abi Thalib.

Beliau mengatakan seperti yang dikutif oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad:

أَرْبَعُ أَشْيَاءَ قَلِيْلُهَا كَثِيْرٌ: أَلْوَجَعُ وَالْفَقْرُ وَالنَّارُ وَالْعَدَاوَةُ

Empat hal yang sedikitnya terasa banyak, yaitu: sakit, fakir, api dan rasa permusuhan

Dari ungkapan Ali di atas, ada empat hal yang meskipun sedikit, tapi dirasakan oleh manusia sebagai sesuatu yang banyak. Karenanya hal ini harus kita waspadai agar kita menyikapinya secara wajar dan proporsional.

1. Sakit

Setiap orang pasti pernah merasakan sakit, sesehat dan sekuat apapun dia. Bermacam penyakit menyerang manusia, mulai dari yang ringan sampai penyakit berat, bahkan penyakit yang selama ini dianggap ringan telah menjadi sesuatu yang amat berat dan menakutkan.

Kondisi jasmani yang sakit, meskipun tidak begitu berat terasa sebagai sesuatu yang berat karena seseorang menjadi terhambat untuk melakukan berbagai aktivitas yang biasa dilakukannya, misalnya sakit gigi menyebabkan seseorang tidak bisa melakukan aktivitas, padahal yang sakit hanya satu atau dua gigi saja, sakitnya sedikit tapi terasa banyak, begitu pula dengan orang yang sakit kepala seperti pusing, iapun tidak bisa melakukan aktivitas, begitulah seterusnya.

Oleh karena itu, sebagai muslim keadaan sakit harus disikapi secara positif meskipun tetap harus berdoa dan berusaha agar sembuh. Hal ini karena sakit juga memberi nilai keutamaan yang besar seperti menghapus dosa, Rasulullah saw bersabda:

مَايُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَسَقَمٍ وَلاَحَزَنٍ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا إِلاَّ كُفِّرَبِهَا مِنْ خَطَايَاهُ.

Tiada seorang mu’min yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya (HR. Bukhari).

Selain itu, orang yang sakit juga akan tetap mendapatkan pahala dari amal yang biasa dilakukannya, karena ia tidak beramal bukan karena tidak mau, tapi karena tidak memungkinkan dengan sebab kondisinya yang sakit, Rasulullah saw bersabda:

إِذَامَرِضَ الْعَبْدُ أَوْسَفَرَكُتِبَ لَهُ مِثْلَ مَاكَان يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا

Apabila salah seorang hamba sakit atau bepergian (safar), maka Allah mancatat pahalanya seperti pahala amal yang dikerjakannya sewaktu ia sehat atau tidak bepergian (HR. Bukhari).

2. Kemiskinan.

Kekurangan harta yang menyebabkan seseorang disebut miskin merupakan salah satu bentuk ujian yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt: Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah [2]:155}.

Manakala kita tidak menyikapi dengan penuh kesabaran, maka kemiskinan yang tidak seberapa itu, bahkan seseorang belum tergolong miskin tapi hanya sedikit hartanya yang berkurang, maka ia sudah merasa sebagai sesuatu yang berat sehingga selalu berkeluh kesah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapati ada orang yang banyak harta tidak bercerita tentang hartanya yang banyak itu, tapi ketika hartanya berkurang meskipun hanya sedikit sudah bercerita kemana-mana.

Disinilah letak pentingnya selalu ingat kepada Allah swt dalam kaitan harta agar kita selalu menjadi orang yang pandai bersyukur, meskipun sedikit yang kita peroleh, karena dengan bersyukur akan terasa banyak yang kita dapatkan, meskipun jumlahnya sedikit, bahkan bisa jadi jumlahnya memang akan ditambah menjadi lebih banyak, Allah swt berfirman: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim [14]:7).

3. Api

Sifat api adalah panas dan membakar, karena itu meskipun api sangat kecil, panas tetap terasa besar sehingga ketika seseorang tersulut api yang kecil, maka secara refleks ia akan menjauhkan anggota tubuhnya yang tersulut api itu, dan kebakaran seringkali terjadi dari api yang kecil hingga membakar begitu banyak bangunan, pemukiman bahkan hutan.

Bila api yang ada di dunia ini saja sudah sedemikian panas, apalagi bila api neraka yang panasnya tidak terkira. Karenanya, ketika ada sahabat yang meminta penjelasan kepada Nabi Muhammad saw tentang panasnya api neraka, maka beliau bersabda:

نَارُكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْأً مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ لِكُلِّ جُزْءٍ مِنْهَا حَرُّهَا

Apimu (yang kamu semua menyalakannya di dunia) ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya neraka jahanam, setiap bagian sama suhu panasnya dengan api di dunia ini (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

4. Permusuhan.

Al ghadhab atau marah merupakan salah satu sifat yang sangat berbahaya sehingga ia telah menghancurkan manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Dari kemarahan muncul kebencian dan berlanjut pada permusuhan. Menskipun faktor yang menyebabkan kebencian dan permusuhan itu kecil, bahkan seringkali hanya persoalan sepele, tapi permusuhan atau kebencian yang kita tunjukkan begitu besar hingga bersikap dan bertindak yang tidak benar dengan mengabaikan prinsip keadilan dalam berhubungan kepada orang lain, ini merupakan sesuatu yang harus diwaspadai.

Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Maidah [5]:8).

Kemarahan kita kepada orang lain harus kita waspadai karena ada beberapa bahaya yang merugikan kita sendiri, Pertama, merusak iman, karena semestinya bila seseorang sudah beriman dia akan memiliki akhlak yang mulia yang salah satunya adalah mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak mudah marah dan bermusuhan kepada orang lain, Rasulullah saw bersabda:

اَلْغَضَبُ يُفْسِدُ اْلاِيْمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبْرُ الْعَسَلَ

Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu (HR. Baihaki).

Kedua, mudah mendapatkan murka dari Allah swt terutama pada hari kiamat, karena itu pada saat kita hendak marah kepada orang lain mestinya kita segera mengingat Allah sehingga tidak melampiaskan kemarahan dengan hal-hal yang tidak benar, Allah swt berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi:

يَابَنِى اَدَمَ اُذْكُرْنِى حِيْنَ تَغْضَبُ اُذْكُرُكَ حِيْنَ اَغْضَبُ

Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir).

Ketiga, menyulut kemarahan orang lain sehingga hubungan kita kepada orang lain bisa menjadi renggang bahkan terputus sama sekali. Oleh karena itu, seseorang baru disebut sebagai orang yang kuat ketika ia mampu mengendalikan dirinya pada saat marah sehingga kemarahan itu dalam rangka kebenaran bukan dalam rangka kebathilan, Rasulullah Saw bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالسُّرْعَةِ وَاِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengontrol dirinya ketika marah (HR. Bukhori dan Muslim).

Apabila seseorang mampu menahan amarahnya, maka dia akan mendapatkan nilai keutamaan yang sangat besar dari Allah swt, dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskan di dalam sabdanya:

مَا جَرَعَ عَبْدٌ جَرَعَةً اَعْظَمَ اَجْرًا مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى

Tiada tegukan yang ditelan seorang hamba yang lebih besar pahalanya daripada tegukan kemarahan yang ditahannya semata-mata karena Allah ta’ala (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Dengan demikian, empat perkara yang disebutkan oleh Sahabat Ali bin Abi Thalib menjadi amat penting untuk selalu kita tempatkan pada proporsi yang sebenarnya.

sumber : eramuslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s