Kegembiraan yang Harus Selalu Diisi Ulang


Tahun berganti tahun. Dan pena sejarah terus menulis. Bagaimana cara hidup ini berjalan dan menyejarah, adalah seperti cara sungai melintasi kelokan-kelokannya. Bukan seperti cara rangkaian gerbong kereta meniti rel-rel besinya. Ada dinamika pada kelokan sungai, sesuatu yang tak ada pada jalan kereta yang monoton dan tak bersahabat.

Seperti riak-riak kecilnya yang gemericik, seperti itulah kantong kegembiraan itu kita perlukan. Ketika hidup memantulkan resonansi pahitnya, kantong kegembiraan itu harus tetap ada, di sana. Bisa jadi dinding-dinding sungai itu cadas. Tapi justru pada benturannya ada nyanyian itu. Dan, toh air kehidupan itupun melaju, berlalu dan akan sampai ke muara tujuan.

Bagi seorang mukmin, kegembiraan tak sekadar basa-basi. Tapi juga bobot bagi sebuah kebaikan yang berlalu lalang di koridor perilaku yang nampak biasa. Di agama ini, Islam yang agung ini, selalu ada pemuliaan bagi hal-hal yang terlihat sederhana. Bukankah Rasul menyebut, bahwa bermuka berseri-seri dan enak ditatap oleh saudara seiman itu sebuah kebajikan?

Kantong kegembiraan itu harus selalu diisi ulang. Untuk kemudian digunakan sebagai energi bagi keseluruhan bentuk ikhtiar kita. Beberapa langkah berikut boleh jadi bisa menjadi kerangka. Agar kantong kegembiraan di dalam batin dan lahir kita, tetap ada isinya.

Pertama, Carilah Selera Kegembiraan Itu

Di wilayah pilihan hidup yang halal dan mubah, Allah membentangkan banyak pilihan. Kita bisa mengambil pilihan kegembiraan itu, sedekat naluri dan kecenderungan terbaik jiwa kita.

Di antara karunia terbesar yang diberikan Allah kepada kita adalah kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Dari sana prinsip selera itu didasarkan. Tentu, selera yang masih dibolehkan. Lalu, pada ruang yang dibolehkan itulah setiap orang saling berbeda dalam mengisi kantong-kantong kegembiraannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya usaha kalian memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4). Tetapi para pendahulu kita, orang-orang shalih itu, menilaskan untuk kita bagaimana memilih selera kegembiraan. Maka kantong kegembiraan itu tak sekadar soal objek, tapi juga bagaimana kita sebagai subjek, bisa memaknai sesuatu sebagai sebuah cita rasa kegembiraan. Lalu memilih selera terbaiknya.

Ibnu Taimiyah punya pilihan selera kegembiraan di dunia ilmu, mengajar, dan menulis karya-karya besar. Bahkan, ketika kelak ia dipenjara, karya-karya itu mengalir deras.

Suatu hari ia jatuh sakit. Ia pun berobat ke seorang dokter. Dokter itu berkata, “Jika engkau sibuk membaca dan memberi ceramah ilmiah akan membuat sakitmu lebih parah.” Mendengar itu, Ibnu Taimiyah menjelaskan, bahwa itu semua sudah menjadi kebiasaan dirinya yang tidak mungkin ditinggalkan. Bahkan disanalah, ia melabuhkan kantong kegembiraannya.

“Bukankah ketika jiwa bahagia dan gembira, badan menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit?” tanya Ibnu Taimiyah.

“Ya, memang,” jawab dokter itu.

Maka Ibnu Taimiyah pun menambahkan, “Begitupun jiwaku, ia mendapatkan kegembiraan dengan ilmu, dan karenanya tubuhku menjadi kuat. Aku pun mendapat kebahagiaan di situ.”

Dokter itu menjawab, “Kalau begitu, ini di luar kemampuan pengobatanku.”

Pilihan selera kegembiraan itu memang kembali kepada kita, dalam batas lingkaran halal atau mubah. Apapun bentuk pilihan itu. Sebab, para pendahulu kita itu, melabuhkan kantong kegembiraan pada selera amal yang berbeda, tapi keseluruhannya berpusar pada kemuliaan yang membahagiakan. Hingga setiap orang, di setiap masa, punya puncak selera kegembiraan yang berbeda. Seperti digambarkan Abdullah bin Mubarak mengomentari orang-orang di jamannya, “Aku melihat orang yang paling ahli ibadah kepada Allah adalah Abdul Aziz bin Abi Rawwad, yang paling menjaga diri adalah Fudhail bin lyadh, yang paling berilmu adalah Sufyan Ats Sauri, dan yang paling ahli dalam fiqih adalah Abu Hanifah.

Syaikh Aidz Al-Qarni bertahun-tahun meneliti pernyataan-pernyataan ulama, sejarawan dan sastrawan Muslim. Hasilnya, ia mendapati bahwa tidak ditemukan petunjuk bahwa mereka pernah mengalami depresi atau gangguan penyakit jiwa. Mereka tentu tidak menjalani profesi yang seragam. Tapi, mereka semua mengerti bagaimana mengisi kantong kegembiraan, dari selera yang berbeda-beda. Lalu masing-masing menekuninya hingga menjadi yang terbaik pada bidangnya.

Bukalah pintu hari-hari kita. Pandanglah hamparan pilihan seleranya. Bergegaslah, di sana ada tempat mengisi ulang kantong-kantong kegembiraan kita.

Kedua, Kenanglah Kenangan Itu

Mengisi kantong kegembiraan bisa juga dengan mengenang apa yang telah lewat dari masa lalu kita. Suka atau dukanya, atau bahkan hal-hal lucu yang sulit kita percaya saat ini, tapi benar-benar pernah terjadi pada kita dahulu, atau pernah kita lakukan di masa lalu. Apa yang menyenangkan dari masa lalu adalah pemompa semangat syukur. Dan kita pun bisa menatap optimis. Sedang apa yang menyedihkan adalah pemompa rasa bahagia, betapa toh hari kesedihan itu telah berlalu.

Begitu pun pada hal-hal yang Rasulullah dan para sahabatnya, seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim punya cara sendiri mengisi kantong kebahagiaan itu. Seringkali, di pagi hari, usai shalat Shubuh mereka tetap berdiam di Masjid. Saat itu mereka saling berbincang, bercengkerama, mengenang banyak hal dahulu di masa jahiliyah. Ada banyak kenangan hadir saat itu. Mereka pun tertawa dan tersenyum. Bila matahari mulai nampak dan perlahan beranjak, mereka keluar dan pergi meninggalkan tempat sholat itu. Memulai hari baru, dengan tugas dan pekerjaan masing-masing.

Setiap kenangan bisa dihadirkan untuk menambah kantong kegembiraan. Kenangan betapa Allah telah mengantarkan kita menjadi seperti ini, di usia yang seperti ini, memilih jalan agama ini. Mungkin dahulu kita tak begitu peduli dengan tata nilai yang diajarkan Allah. Sekarang semoga lebih dewasa, mengerti akan kesudahan sebuah tanggung jawab, serta sadar, bahwa segala pemberian Allah kepada kita ada perhitungannya.

Seperti juga mengenang pengalaman menggelikan yang membuat Rasulullah tertawa, adalah cara lain mengisi kantong kegembiraan yang dilakukan para sahabat. Suatu hari, di hadapan Khalifah Umar, seorang lelaki tiba. Ia berkata, “Mungkin satu atau dua bulan kita tidak akan mendapatkan air.” Saat itu Umar menyahut, “Kalau tidak ada air, aku tidak akan shalat hingga mendapatkan air.”

Saat itulah Ammar bin Yasir, yang juga sejak tadi ada di hadapan Umar, teringat kembali kenangan masa lalunya. “Wahai Amirul Mukminin, masih ingatkah engkau, dulu suatu hari, di tempat ini dan itu. Kita sama-sama menggembala unta. Lalu kita bermimpi dan junub. Saat itu tidak ada air. Aku lantas berguling-guling di tanah seperti ternak yang bermandi debu. Lalu kita datang menemui Rasulullah, dan Rasul pun tertawa dan menjelaskan bahwa kita cukup bertayammum sambil mencontohkan caranya.”

Ammar bin Yasir tak sekadar mengingat tindakannya yang kacau saat itu. Tapi juga tengah menghadirkan kembali kenangan akan hari-hari bersama Rasulullah. Kenangan tentang senyum dan tawanya yang mulia. Ini menjadi semacam obat bagi rindu pada Rasul tercinta. Itulah cara mengisi ulang kantong kegembiraan.

Ketiga, Tersenyum dan Tersenyumlah

Lihat dan tersenyumlah. Kantong kegembiraan itu bisa kita isi dari senyum jiwa kita saat menatap kehidupan. Ada berjuta peristiwa setiap waktu. Ada banyak hal yang bisa kita sapa dengan senyum. Kita anyam dengan simpul-simpul pengharapan. Dan seketika kita akan mengisi kantong kegembiraan dalam jiwa kita.

Nabi Sulaiman tertawa melihat ulah para semut yang lucu dan menggemaskan. Tapi tawa itu menjadi kantong kegembiraan yang mengantarkannya kepada rasa syukur. Allah SWT berfirman, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, ’Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) pertakaan semut itu. Dan dia berdo’a, ’Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalihyang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku denga rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.’” (QS. An-Naml: 17-19).

Ada banyak sumber inspirasi agar kita bisa tersenyum. Menjaga agar dahi tak berkerut-kerut dan dada senantiasa lapang.

Bercanda dan bergurau dalam batas yang dihalalkan adalah tempat kita mengisi kantong kegembiraan itu. Terlebih antara suami istri. Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa para sahabat kadang bergurau, dengan saling melempar semacam buah semangka. Tapi bila dalam urusan serius, mereka adalah laki-laki. Seperti juga kata Umar bin Khattab, seorang lelaki itu mestinya bersikap kekanak-kanakan bila berada di tengah keluarganya, tapi bila dilihat sesungguhnya, ia adalah lelaki ksatria.

Syaikh Abdullah bin Baz, kadang dengan sengaja bergurau. Pernah, ia mengajak makan malam salah seorang muridnya. Murid itu memohon maaf dan mengatakan tidak bisa. Abdullah bin Baz lantas menggodanya, “Kamu takut sama istri kamu, ya? Sudahlah ayo makan malam.” Di kali lain, suami cucunya datang. Lalu ia mengundang dan mengharap kehadirannya. Abdullah bin Baz pun berkata, “Nggak masalah, jika engkau menikah lagi, Insya Allah aku akan datang pada saat walimah.” Rupanya suami cucunya itu menanggapinya serius. Ia beritahu istrinya. Sang istri pun segera menghubungi kakeknya dan mempertanyakan hal itu. Tentu bin Baz tidak berdusta. la berkata, bila suami cucunya itu menikah lagi ia akan berusaha datang.

Allah Yang Maha Mulia sendiri juga bergembira. Allah bergembira dengan taubat hamba-Nya. Lebih gembira dari orang yang menemukan kembali kendaraannya setelah hilang di padang pasir.

Ada banyak potret hidup yang bisa kita tatap dengan senyum. Bahkan bila seluruh isi bumi ini terasa gelap, kita harus menghadirkan senyum itu dari persepsi kita sendiri. Sebab ada kadar kegembiraan yang harus kita ambil untuk mengalirkan kesegaran dalam jiwa.

Kelima, Tunjukkan bahwa Allah Telah Memberi Karunia

Mengisi dan menyisakan kantong kegembiraan, adalah cara lain berterima kasih kepada Allah. Dia-lah yang berkuasa atas semua kita dan seluruh alam semesta. Yang memberi rejeki, menurunkan hujan, dan memberi kita sumber-sumber kehidupan. Allah SWT berfirman, “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syu-kurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepadan-Nya saja menyembah.”

Karunia yang diberikan ini harus kita syukuri. Dan salah satu bentuk syukur nikmat adalah menunjukkan bekasnya kepada Allah, meski Allah Maha Tahu yang nampak dan yang tersembunyi. Sedang bakhil, terhadap diri sendiri atau orang lain sama jeleknya. Keduanya dilarang.

Suatu hari, seorang lelaki kaya raya datang menemui Rasulullah dalam keadaan kotor dan compang-camping. Rasul pun bertanya, “Apakah engkau tidak punya harta.”

Lelaki itu menjawab, “Punya. Banyak sekali dari segala bentuk yang diberikan Allah kepadaku.”

Maka Rasul pun bersabda, “Sesungguhnya Allah senang bila la memberi nikmat kepada hamba-Nya, nikmat itu nampak bekasnya.” (HR. Ahmad).

Ini merupakan pijakan berharga tentang kepatutan. Dan di dalam kepatutan itulah tempat kita mengambil sumber kegembiraan.
Sepatutnya orang yang diberik nikmat kekayaan, tidak menjadi bakhil bahkan kepada dirinya sendiri. Tampil semrawut di tengah kecukupan tidak diperkenankan. Tapi berlebih-lebihan dan bergelimang kemubaziran jelas dilarang. Selalu saja jalan pertengahan itulah yang terbaik. Allah SWT berfirman mengisahkan sifat-sifat para Ibadurrahman, hamba-hamba-Nya Yanga Maha Penyayang, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon: 67).

Dalam kaitan dengan ini, menampakkan bekas-bekas karunia tak berarti hanya monopoli orang-orang kaya. Bila itu prinsipnya, tentu hanya orang-orang kaya saja yang bisa mengisi kantong kegembiraannya, dari sisi ini. Padahal kenyataannya tidak. Seperti ungkapan orang-orang bijak, “Dengan hati yang lapang, orang miskin bisa makan dengan sepotong tempe serasa dengan sepotong daging. Sebaliknya, dengan hati yang sempit, orang kaya yang makan dengan sepotong daging bisa serasa makan dengan sepotong tempe.”

Di sebuah musim haji, Sufyan Ats Sauri, seorang ulama Tabi’in yang ahli dalam bidang hadits, hendak tidur. Waktu itu di Muzdalifah. Segera ia mengambil sebongkah tanah untuk dijadikan bantal. Orang-orang terheran dan menegur, “Engkau seorang ahli hadits dan berbantal tanah?”

Sufyan menjawab, “Bantalku ini jauh lebih nikmat dari bantal Khalifah Ja’far Al-Mansur.”

Setiap kita pasti diberi karunia. Setidaknya karunia kehidupan, bisa bernafas dan hadir di bumi ini tanpa terlebih dulu kita menghendaki-nya. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk menampakkan dan membekaskan bukti-bukti keluasan kasih dan sayang Allah SWT.

Akhirnya, tak ada yang lebih menentramkan dari melengkapi semua langkah di atas dengan langkah kelima, yang merupakan langkah wajib: doa.

Ya, semua pilihan kita mengisi kantong kegembiraan itu, harus kita tambahkan dengan doa. Memohon agar selalu diberi kantong kegembiraan dalam kadar dan kapasitas kita sebagai seorang mukmin.

Sumber: Tarbawi edisi 76 Th. 5/Dzulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s